Di Balik Jendela.

Percayalah, meskipun judulnya sama tapi ini bukan cerita sama yang pernah Raditya Dika tulis di bukunya Cinta Brontosaurus. Ini tentang apa yang gue lihat selama ini berbagai jendela. Dibalik jendela kelas gue waktu SMP dan SMA, dibalik jendela bus yang gue tumpangin selama perjalanan dari rumah gue ke Semarang atau sebaliknya dan dibalik jendela kamar kosan baru gue yang super galau. Oh 1 hal lagi, ini juga bukan postingan “bagaimana caranya masuk lewat jendela”. Jaga-jaga aja. *sembunyiin obeng*

Jika ditanya apa gue percaya sama yang namanya kebetulan, sampai sekarang gue ga tahu harus jawab YA atau GA. Antara percaya dan ga, banyak banget “kebetulan” yang terjadi di hidup gue. Contohnya adalah selama kelas 3 SD, 3 SMP dan 3 SMA, gue sering banget ngobrol sama temen gue lewat jendela. Beeeeh, berasa Romeo sama Juliet yak? Oooh Romeo, kamu unyuuu banget deeeh…

Tiga atau enam tahun yang lalu, kebiasaan gue ini terasa biasa aja. Tapi sekarang, setiap gue datang ke sekolah dan ngeliat jendela itu. Gue bisa senyum-senyum sendiri, meskipun gue tahu dibalik jendela itu banyak banget cerita yang ga semua nyenengin. Ada beberapa hal bodoh seperti dijewer sama guru SD gara-gara asik sendiri nyanyi di jendela saat dia masuk, ngegosip asik dengan anak-anak kelas unggulan bahasa Inggris di SMP, kejepit dibalik jendela SMA, gimana waktu gue berantem sama temen gue (apakah gue satu-satunya orang yang berantem dijendela? Anyone?), atau saat sesi curcol pagi sebelum masuk kelas. Hey you, I remembered all of it and I enjoyed it. Thank you.

Sedikit lebih dewasa (ejieee), nomaden dari satu jendela ke jendela lain, yaitu jendela bus. Gue bukan orang yang super excited untuk cepat-cepat balik ke Semarang dan kuliah, tapi gue sangat menikmati perjalanannya. Chemistry gue dan Semarang ga pernah baik. Tapi sekali lagi, perjalanan ini buat gue rinduu. Menunggu bus datang di Terminal Boyolali, sekali-kali mendengarkan percakapan pengamen dan penjual makanan dan minuman dan terkadang di dalam bus banyak percakapan dari banyak orang yang berbeda. Menurut gue semua itu unik. Oh oh, dan yang ga boleh terlewat adalah pemandangan “tak biasa” yang ada di main road maupun di pinggiran kota Semarang yang dilewati. Banyak yang terlupakan rasanya di kota Semarang.

Last but not least, jendela kamar kosan super galau. Buat sekarang ga ada yang bisa gue tulis tentang kamar kosan yang super galau itu. Eh ada! Warga sekitar dikosan gue menyukai 2 hal. Pertama, binatang. Kedua, dangdut. Yes, gue hidup di kota antah berantah.

***

Silver lining posting kali ini gue usahain sedikit bener:

  • Kita hanya melihat apa yang didalam pikirannya atau keinginannya ingin lihat. Dan saat kita menceritakannya kepada orang lain, dia juga akan melihat apa yang kita kita lihat. Sedangkan orang lain bisa melihat sisi lain dari yang tidak ingin kita lihat. Pusing? Gue juga, intinya adalah melihat dari 2 sisi terkadang bisa menjawab pertanyaan kita. Tidak termasuk pertanyaan ujian nasional atau SNMPTN.
  • Andai mengatakan bagaimana perasaan rindu itu semudah menyelesaikan 1+1, mungkin tak perlu aku menulis postingan panjang, galau dan ga jelas ini. Ya. Gue rindu masa lalu.
  • Dibalik jendela hati ini. Ada KAMU mengintip-intip hati kuuu. Ejieeee…

Iklan

5 thoughts on “Di Balik Jendela.

  1. bet365 italia berkata:

    how are you!This was a really fine post!
    I come from roma, I was luck to come cross your theme in digg
    Also I learn much in your theme really thanks very much i will come later

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s