Postingan Telat : Jatim Race

Gue janji ini part yang terakhir dari petualangan gue selama di Malang. Serius deh. Apah apah? Kamu nda percaya sama aku? *tusuk pake koteka*.

Sampai mana posting sebelumnya? Ikan bobo ya? Oke. Karena ikan sudah bobo, maka gue anggap petualangan ini sudah selesai. Adios!

….

….

….

Ehemmm…

….

….

Uhmmm…

….

….

Halo halo? Ada yang nanyain kelanjutannya? Ya sudaaa….

Aaaahh! Mbak yang pakai laptop entahpunyasiapa, yang kepengen makan Magnum ga sampai dan penasaran dengan kisah derita (versi) gue selama di Malang. Masih penasaran sama cerita kelanjutan versi gue kan? Pengen ketawa ngakak kan? Bentar, gue mau telpon pengacara. Bukan mau bikin surat wasiat kok. Nah, karena ada mbaknya yang masih penasaran sama kisah derita gue di Malang, maaf untuk yu yu and yu yang ngarep cerita lain *talk to mascakep*

Untuk acara makrem sendiri, sebenernya gue dan temen-temen gue udah punya rencana dadakan yang udah siap. Ngerti? Gue tahu, gue juga ga ngerti apa yang barusan gue ketik. Tapi rencana itu gagal sodara sodara sekalian! Daaaaaaaangg!! *keselek nanas*

Rencana yang setengah jelas itu gagal, karena ternyata eh ternyata kita dibagi kelompok sama mas mbaknya panitia dari UB. Ooh mbaknyaa, masnyaa, seandainya saat itu kalian tahu apa aja dan gimana derita gue dari awal sebelum sampai ke Malang bersama mereka. Kalian mungkin tak akan mampu memisahkan kami. *lari ke padang rumput* *galau di padang rumput* *makan rumputnya*

Gue dan temen temen gue dibagi jadi 4 kelompok. Lucky for Riko, dia 1 kelompok sama Ratri. Setelah mandi dan makan malam, gue dan temen-temen gue ngumpul dengan masing-masing. Gue 1 kelompok dengan temen-temen dari UB semua, hanya beda jurusan dan kelamin. Tiga cewek dan 1 cowok atau dua cewek dan dua cowok. Siapa cowok yang satunya, Dew? GUE! Puas lo, puas lo?? *lari kepantai* *naik perahu* *bantuin nelayan nangkap ikan*. Setelah diskusi yang paanjaaang selama 5 menit. Akhirnya kita putusin untuk perform ala OVJ dengan judul: SEM SEM SEM… SEMINAR SATU MALAM OH INDAHNYA. Tok tok tok tok.

*video*

Ini performance dari temen-temen gue yang lain:

*video* *video*

Yang ini performance yang “maksa” peserta cinlok, karena mau ga mau mereka harus pelukan.

*video*

Thank’s God, I’m holding Kikok’s camera. Lah apa hubungannya, Dew? Mari kita tanya Galileo:

Saya ga pegang kameranya Kikok + saya ikut main di permainan itu = peluk-peluk *entah dengan siapa.

Saya memegang kameranya Kikok + Saya ikut main di permainan itu = cobalah belajar ikhlas, merelakannya adalah hal yang paling bijaksana. Ky, gue ga mau ganti! *kabur*

Ga mau kalah panitia. Mereka juga ikutan perform. Asli kocak.

*video*

Acara puncak, kami nyanyi bareng.“Sudah malaaaaaaaammm, ikan bobooooo”

***

Pagi pun datang, matahari bersinar, Teletubies berpelukaaan. Kita dibangunin jam 04.30 karena disana emang subuh lebih awal dan kita harus persiapan buat Training Leadership.

Unfortunately, gue dan Kikok ga bisa ikutan acaranya. Hari Minggu itu, Kikok ada job yang sebenernya ga bisa ditinggalin. Gue sendiri diminta anak-anak yang lain nemenin dia pulang dan sebenernya gue juga ada kerjaan lain. Beberapa hal untuk semnas jurusan gue belum keurus dan deadlinenya adalah hari Minggu itu juga. Jadi, kita berdua tinggalin Riko, Hesti dan Ratri, teronggok bertiga menikmati Training Leadership bersama universitas lain. Unyuuu nyaa kalian. *peyuuk* *peyuuuk*

Setelah mandi, sholat dan sarapan. Gue dan Kikok packing super kilat karena kita ngejar kereta jam 12 di Surabaya dan juga pas kita sarapan ternyata pembicaranya udah dateng. Wow, super on time. SALAM SUPER BAPAKNYAAAA!!! Dan kami pun pulang dengan perut setengah kenyang… Sedihhh…

Kita di anter sama panitia UB dari villa kita di Batu sampai ke terminal Arjosari, Malang. Naik motor. Konvoi. Kecepatan tinggi. Beneran konvoi, konvoi dengan kendaraan lain ditengah kemacetan. Dan kecepatan tinggi? Percayalah, mereka ngebut sepanjang villa sampai ke terminal. Mereka ngebut kurang lebih 60 km/jam. Daaaaaanggggg!!!

Di Terminal masih lari-larian cari bus dan untungnya kita langsung dapet busnya. Tapi, perasaan gue ga enak. Atau tepatnya perut gue yang ga enak. Gue mabok. Dan dehidrasi. Sial. Selama perjalan gue cuma bisa nunduk, tidur dan pegang perut. Inisiatif makan permen biar ga dehidrasi, malah bikin perut gue tambah mual. Sial dua kali. Sampai entah di stasiun mana, busnya berhenti lama banget, dan masuklah pengamen genjrang genjreng dibangku depan gue. Dan itu bikin kepala gue pusing. Sial tiga kali. Tapi akhirnya gue selamat sampai di Surabaya, tanpa muntah.

Berasa ikutan Asian Race, gue sama Kikok lari-larian naik cari taksi dari terminal ke Stasiun Gubeng. Sopir taksi disini nawarin taksinya berasa nawarin sabu-sabu. Lirikan mata tajam, kunci di tangan, mulut komat-kamit ngomong, “Neng, mau kemana neng? Ini kunci taksi saya neng. Ayo neng, pake taksi saya aja”. Maaf pak, saya udah pesen sabu-sabu di tempat lain. Suwiran ayamnya lebih banyak malah.

Dari terminal ke stasiun cukup lama juga sebenarnya, ada 30 menitan, sedikit macet. Entah gimana dengan Kikok yang mungkin cenat cenut mikirin jobnya, tapi gue serius nikmatin suasana kota Surabaya. Bangunan kotanya itu ‘rapi’, masih banyak bangunan tua yang dimanfaatin jadi kantor pemerintahan, kalo gue bilang Surabaya itu ‘hangat’. Tapi entah kenapa, perasaan gue tetep ga enak.

Taksi berhenti didepan Stasiun Gubeng, gue sama Kikok (seperti sebelumnya) lari-larian lagi, jarak ke loket pembelian tiketnya ternyata lumayan jauh. Dem! Sepertinya Surabaya emang terlalu mempesona gue waktu itu, arsitektur Stasiun Gubeng dan penataannya ga bisa lepas dari mata gue, sampai gue dibawa terbang melayang dan akhirnya menyentuh bumi dengan pantat duluan. Tepatnya, gue kepleset. Sial empat kali.

Begitu sampai di loket pembelian tiket, akhirnya, kita berdua tahu… kita ada di stasiun yang salah. Kereta ke Semarang ga lewat stasiun ini, tapi Stasiun Pasar Turi. Oh mengapa…Stasiun Pasar Turi… I’m coming bibeh…

Kita sampai di Stasiun Pasar Turi dengan selamat, aman dan ga ada kejadian memalukan lagi buat gue. Beli tiket dan langsung tarik napas lewat hidung dan buang lewat belakang. Eh maaf, kelepasan. Kita sempet makan, sholat, puppy, ngobrolin hal galau lainnya. Muahaha. *ngumpet*

Setelah jam 1-an, gue agak deg-degan gimana gitu.

Gue: Ky, cek lagi deh tiketnya. Jam keberangkatan dan jalurnya.

Kikok: Jam 13.30, di jalur 2.

Gue: Aku yang ga denger atau speakernya yang ga jelas ya? Kok belum ada panggilan kalo kereta kita udah dateng ya? Jalur 2 yang mana sih?

Kikok: Ga tau, coba tanya aja deh.

Keluar dari ruang tunggu dan langsung nanya petugas, dengan gerakan slow motion, bapak-bapak petugas itu mengangkat tangannya dan menunjuk ke depan dan berkata, “Itu dia keretanya mbak, udah mau berangakat.” God must be love us so much, Ky. God Love Both of Us So Much…

Gue dan Kikok berlarian, ngejar kereta. Kalo di filmin, scenenya kita lari-larian dengan background kereta, cari gerbong, rambut berkibar kemana-mana, bawa goodie bag dan se-pack Dunkin Donuts. Oh my, donat lagi.Untungnya kita masih bisa ngejar keretanya, dan duduk tenang tanpa suara dan gerakan. I mean, sepanjang perjalanan, ehmm, gue dan Kikok… tidur.

It’s all fun. Segala kisah merana gue berangkat dan pulang dari Malang. Silver line yang bisa diambil disini adalah Malang itu ber-atmosphere kasur, bantal dan selimut. Bawaannya bikin orang tidur pules.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s